
JAKARTA — Rangkaian kajian Dars Fajr bersama Al-‘Allamah Al-Habib Umar bin Hafidz di Masjid Istiqlal, Jakarta, memasuki hari ketiga sekaligus hari terakhir pada Selasa (13/10/2026). Dalam kajian yang berlangsung pada waktu fajar tersebut, Habib Umar melanjutkan pembahasan kitab Qāmi‘u ath-Thughyān, karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, dengan menguraikan sejumlah cabang keimanan yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari seorang muslim.
Kajian ini menjadi bagian dari rangkaian Rihlah Dakwah Habib Umar bin Hafidz di Indonesia. Selama tiga hari pelaksanaannya, Dars Fajr di Masjid Istiqlal menjadi kesempatan bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman keagamaan melalui kajian kitab klasik yang membahas berbagai aspek keimanan, mulai dari perilaku lahiriah hingga kebersihan hati.
Pada hari terakhir ini, pembahasan mencakup ketentuan berpakaian dan berhias, menjauhi permainan yang dilarang agama, keseimbangan dalam membelanjakan harta, hingga larangan iri dan dengki. Berbagai materi tersebut mengingatkan bahwa keimanan tidak hanya berkaitan dengan keyakinan di dalam hati, tetapi juga tercermin dalam sikap, pilihan, dan hubungan seseorang dengan sesama.

Syariat Islam Membimbing Kehidupan Sehari-hari
Dalam kajiannya, Habib Umar bin Hafidz membahas ketentuan berpakaian dan berhias sebagaimana dijelaskan dalam kitab Qāmi‘u ath-Thughyān. Pembahasan ini menunjukkan luasnya cakupan syariat Islam yang memberikan bimbingan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hal-hal yang tampak sederhana seperti pakaian, perhiasan, serta penggunaan benda-benda sehari-hari.
Di antara materi yang dijelaskan adalah ketentuan mengenai penggunaan sutra dan perhiasan emas bagi laki-laki, serta penggunaan wadah makanan dan minuman yang terbuat dari emas atau perak. Kajian tersebut juga menguraikan pengecualian dalam kondisi tertentu sebagaimana dibahas dalam literatur fikih.
Selain ketentuan hukum, perhatian juga diberikan pada niat dan sikap seseorang ketika berpakaian. Pakaian semestinya digunakan untuk memenuhi kewajiban menutup aurat dan menjaga kepantasan, bukan menjadi sarana untuk menyombongkan diri atau mencari pengakuan melalui penampilan semata.
Habib Umar mengingatkan pentingnya menjauhi sikap berbangga diri dan kesombongan. Kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pakaian atau penampilan luarnya, tetapi juga berkaitan dengan ketakwaan dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan ini turut menyinggung pentingnya menjaga kehormatan, kesopanan, serta batasan pergaulan sesuai tuntunan agama. Dengan demikian, persoalan berpakaian tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga menyangkut niat, adab, dan tanggung jawab seorang muslim dalam menjaga dirinya.

Menjauhi Permainan dan Hiburan yang Dilarang
Cabang keimanan berikutnya yang dibahas adalah menjauhi permainan dan hiburan yang dilarang oleh Allah SWT. Salah satu perhatian utama dalam materi ini ialah perjudian, yang diperingatkan sebagai perbuatan tercela dan harus dijauhi oleh kaum muslimin.
Habib Umar juga menguraikan pembahasan mengenai sejumlah bentuk hiburan dan alat musik dalam perspektif syariat, termasuk adanya perbedaan ketentuan terhadap jenis-jenis tertentu. Materi tersebut mengingatkan jamaah agar memperhatikan batasan agama dalam memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Hiburan merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi penggunaannya tetap perlu diarahkan pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Karena itu, seorang muslim diingatkan untuk memilih kegiatan yang diperbolehkan dan mengisinya dengan niat yang baik.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa menjaga keimanan juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan pilihan sehari-hari. Waktu dan kesempatan yang dimiliki hendaknya dimanfaatkan untuk kegiatan yang membawa manfaat, bukan justru mengantarkan seseorang pada perbuatan yang dilarang.

Menjaga Keseimbangan dalam Membelanjakan Harta
Sikap hemat dan seimbang menjadi bagian penting dalam mengelola harta secara bertanggung jawab. Seorang muslim tidak dianjurkan membiarkan dirinya dikuasai sifat pelit, tetapi juga tidak sepatutnya menghamburkan harta tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan manfaatnya.
Pembahasan ini turut menyoroti kedudukan infak dan kepedulian terhadap kepentingan orang lain. Harta tidak semestinya hanya dipandang sebagai sarana memenuhi kepentingan pribadi, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk membantu sesama dan menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.
Dalam materi kajian, keteladanan kaum Anshar yang mendahulukan kebutuhan saudaranya meskipun mereka sendiri berada dalam keterbatasan turut menjadi perhatian. Sikap tersebut menggambarkan nilai kepedulian, kemurahan hati, dan kesediaan untuk berbagi yang perlu ditumbuhkan dalam kehidupan seorang muslim.
Selain itu, jamaah juga diingatkan tentang pentingnya memohon petunjuk Allah SWT melalui istikharah serta meminta pertimbangan dari orang-orang saleh ketika menghadapi persoalan. Hal ini menjadi bagian dari ikhtiar agar keputusan yang diambil didasarkan pada pertimbangan yang baik.
Materi selanjutnya mengangkat pentingnya bersikap seimbang dalam membelanjakan harta. Dalam pembahasan tersebut, jamaah diingatkan agar menjauhi dua sikap yang berlawanan, yakni terlalu kikir dan berlebihan dalam pengeluaran.

Habib Umar Ingatkan Bahaya Iri dan Dengki
Menjelang penutup kajian, pembahasan beralih pada pentingnya membersihkan hati dari kebencian, iri, dan dengki. Materi ini menjadi salah satu pesan penting dalam kajian hari ketiga, mengingat kebersihan hati merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya seorang muslim memperbaiki kualitas keimanannya.
Habib Umar mengingatkan larangan untuk saling mendengki, termasuk dalam urusan yang berkaitan dengan kepentingan dan transaksi antarsesama. Sikap dengki dapat merusak hubungan persaudaraan serta mendorong seseorang untuk tidak menghendaki kebaikan yang dimiliki orang lain.
Dalam pembahasan tersebut, bahaya hasad digambarkan seperti api yang menggerogoti kayu kering. Perumpamaan ini menegaskan betapa pentingnya menjaga hati dari sifat yang dapat mengikis pahala dan merusak kebaikan yang telah diupayakan seseorang.
Membersihkan hati menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang baik dengan sesama. Seorang muslim tidak cukup hanya memperhatikan perilaku lahiriah, tetapi juga perlu berusaha menghilangkan sifat-sifat buruk yang dapat memengaruhi niat dan tindakannya.
Melalui pembahasan ini, jamaah diajak untuk melakukan introspeksi dan senantiasa memohon kepada Allah SWT agar hati disucikan dari berbagai penyakit batin. Dengan hati yang lebih bersih, seseorang diharapkan mampu menjaga persaudaraan, menjauhi permusuhan, dan terus memperbaiki kualitas keimanannya.

Ditutup dengan Doa untuk Umat dan Bangsa Indonesia
Pada penghujung kajian, doa dipanjatkan agar ilmu yang dipelajari menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjadi amal yang memberikan manfaat di akhirat. Doa juga ditujukan bagi mereka yang telah berkhidmah dalam penyelenggaraan kegiatan serta berbagai bentuk pelayanan untuk kebaikan umat.
Dalam doa penutup tersebut, turut dipanjatkan permohonan agar Allah SWT memberikan taufik dan bimbingan kepada Menteri Agama, Presiden Republik Indonesia, beserta para pembantunya, sehingga dapat menjalankan tugas dengan menghadirkan kebaikan dan manfaat bagi masyarakat. Doa juga dipanjatkan agar bangsa Indonesia dijauhkan dari bencana dan berbagai keburukan.
Berakhirnya kajian hari ketiga menandai penutup rangkaian Dars Fajr bersama Habib Umar bin Hafidz di Masjid Istiqlal dalam agenda Rihlah Dakwahnya di Indonesia. Pembahasan kitab Qāmi‘u ath-Thughyān pada kesempatan ini menghadirkan beragam pengingat mengenai pentingnya menjalankan syariat, menjaga perilaku, menggunakan harta secara bijak, serta membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Rangkaian kajian tersebut menjadi kesempatan bagi jamaah untuk kembali menelaah cabang-cabang keimanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ilmu yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diamalkan dalam kehidupan nyata dan menjadi bagian dari ikhtiar untuk meningkatkan kualitas keimanan serta akhlak.
Melalui kajian Dars Fajr di Masjid Istiqlal, pesan tentang pentingnya ilmu, amal, dan penyucian hati kembali mendapat perhatian. Menjaga hati dari iri dan dengki, menjauhi kesombongan, serta membiasakan diri berbuat baik menjadi bagian dari perjalanan seorang muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sumber informasi : Majelis Al-Muwasholah Baina ‘Ulama Al-Muslimin.