Tutup Rihlah Dakwah di Indonesia, Habib Umar bin Hafidz Hadiri Multaqa Ulama di Subang

SUBANG — Rangkaian Rihlah Dakwah Al-‘Allamah Al-Habib Umar bin Hafidz di Indonesia memasuki agenda terakhir melalui pertemuan bersama para ulama dan pimpinan pondok pesantren dalam kegiatan Multaqa Ulama di Pondok Pesantren Al-Ihya, Subang, Jawa Barat, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pertemuan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus ruang bertukar pandangan mengenai peran ulama dalam membina kehidupan umat dan memperkuat kemandirian masyarakat sebelum Habib Umar melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Turki.

Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 400 pimpinan pondok pesantren yang merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor melalui Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM). Sejumlah ulama dari berbagai daerah di Jawa Barat turut hadir, menjadikan pertemuan ini sebagai ajang silaturahmi antarpengasuh pesantren sekaligus pertemuan ulama di wilayah Jawa Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Hasan Sahal turut memberikan kata sambutan meskipun berhalangan hadir secara langsung. Pertemuan ini mempertemukan para pimpinan pesantren dan ulama dalam suasana kebersamaan untuk membahas tanggung jawab keumatan serta peran strategis lembaga pendidikan Islam dalam kehidupan masyarakat.

Tiga Pokok Pembahasan: Tazkiyah, Kemandirian Umat, dan Penataan Hubungan

Dalam ceramah yang berlangsung hampir satu setengah jam, Habib Umar bin Hafidz mengangkat tema mengenai peran ulama dalam tazkiyah, pembinaan rohani, mewujudkan kemandirian umat, dan menata hubungan.

Pembahasan pertama menyoroti pentingnya tazkiyah, yakni penyucian jiwa dan pembinaan rohani. Dalam menjalankan perannya, ulama tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan ilmu agama, tetapi juga membimbing umat dalam membangun kualitas spiritual, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Pembinaan rohani menjadi bagian penting dari pendidikan umat. Ilmu yang dipelajari di pesantren dan lembaga pendidikan Islam diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi juga tercermin dalam perilaku, akhlak, dan cara seseorang menjalani kehidupannya. Karena itu, peran ulama dalam tazkiyah memiliki kedudukan penting dalam membentuk pribadi dan masyarakat yang lebih baik.

Pokok pembahasan kedua adalah peran ulama dalam mewujudkan kemandirian umat. Kemandirian menjadi perhatian penting agar umat mampu mengembangkan potensi yang dimiliki dan tidak terus-menerus bergantung pada pihak luar. Upaya ini dapat berjalan melalui pendidikan, penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan potensi pesantren, serta pembinaan generasi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan masyarakat memiliki peran strategis dalam mendukung tujuan tersebut. Dengan memperkuat kualitas pendidikan dan potensi yang dimiliki, pesantren dapat turut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang berdaya dan mampu menghadapi berbagai tantangan.

Adapun pokok pembahasan ketiga berkaitan dengan pentingnya menata hubungan, baik secara internal maupun eksternal. Ulama memiliki peran dalam menjaga hubungan di antara sesama umat, membangun komunikasi yang baik, serta menjalin hubungan dengan berbagai pihak di luar komunitasnya.

Penataan hubungan tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Hubungan yang dijaga dengan baik dapat mendukung terciptanya kerja sama, memperkuat persaudaraan, dan membuka ruang bagi berbagai upaya yang membawa kemaslahatan bagi umat.

Melalui ketiga pokok pembahasan tersebut, pertemuan di Subang menjadi ruang untuk menegaskan kembali luasnya tanggung jawab ulama. Peran mereka tidak terbatas pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga mencakup pembinaan rohani, penguatan kemandirian masyarakat, serta pemeliharaan hubungan yang baik dengan berbagai pihak.

Sarasehan Penguatan Pembelajaran Bahasa Arab

Selain Multaqa Ulama, rangkaian kegiatan di Subang juga mencakup sarasehan yang membahas pentingnya penguatan pembelajaran bahasa Arab di lingkungan pondok pesantren dan perguruan tinggi.

Bahasa Arab memiliki kedudukan penting dalam tradisi keilmuan Islam, terutama sebagai sarana untuk memahami sumber-sumber ajaran Islam dan memperluas akses terhadap khazanah keilmuan para ulama. Oleh karena itu, penguatan pembelajaran bahasa Arab menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kualitas pendidikan Islam.

Dalam rangkaian agenda tersebut, turut dibahas program pengukuhan dan kerja sama dalam penguatan pembelajaran bahasa Arab di pondok-pondok pesantren dan universitas. Inisiatif ini berkaitan dengan upaya memperkuat pembelajaran bahasa Arab serta mendorong kerja sama antarlembaga pendidikan dalam mengembangkan kualitas pendidikan.

Menutup Rihlah di Indonesia dengan Penguatan Peran Ulama

Multaqa Ulama di Pondok Pesantren Al-Ihya, Subang, menjadi salah satu momentum penting dalam rangkaian akhir Rihlah Dakwah Habib Umar bin Hafidz di Indonesia sebelum beliau melanjutkan perjalanan dakwah ke Turki.

Pertemuan yang dihadiri lebih dari 400 pimpinan pondok pesantren alumni Gontor serta para ulama dari berbagai daerah di Jawa Barat ini menjadi ruang silaturahmi dan pertukaran gagasan mengenai tanggung jawab ulama dalam membina umat.

Pembahasan mengenai tazkiyah, kemandirian umat, dan penataan hubungan mengingatkan bahwa kontribusi ulama memiliki cakupan yang luas. Selain menjaga kesinambungan ilmu dan tradisi keagamaan, ulama juga berperan dalam membina kualitas rohani masyarakat, mendorong kemandirian, serta menjaga hubungan yang membawa kemaslahatan.

Melalui pertemuan tersebut, semangat kolaborasi di antara ulama dan pimpinan pesantren menjadi bagian penting dalam memperkuat pendidikan Islam dan menjawab kebutuhan umat. Dari Subang, rangkaian perjalanan dakwah Habib Umar bin Hafidz berlanjut menuju Turki, membawa pesan tentang pentingnya pembinaan rohani, kemandirian umat, dan hubungan yang baik dalam kehidupan bersama.

Sumber informasi : Majelis Al-Muwasholah Baina ‘Ulama Al-Muslimin.

Comments are closed.