Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Titip Harapan Besar untuk Kemanfaatan Umat

JAKARTA — Rangkaian Rihlah Dakwah Al-‘Allamah Al-Habib Umar bin Hafidz di Indonesia berlanjut dengan kunjungan silaturahmi ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya No. 164, Jakarta, pada Senin (12/10/2026). Kunjungan ini menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan dakwah ulama besar asal Tarim, Yaman, tersebut, sekaligus momentum untuk mempererat hubungan ant ulama dan memperkuat ikhtiar bersama dalam menghadirkan kemanfaatan bagi umat.

Kedatangan Habib Umar bin Hafidz disambut oleh jajaran pimpinan PBNU, di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah KH Tajul Mafakhir, KH Afifuddin Dimyathi, KH Zulfa Musthofa, serta Katib Aam PBNU Prof. M. Nuh. Hadir pula Wakil Ketua Umum PBNU KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, Sekretaris Jenderal H. Gudfan Arif, serta jajaran pengurus lainnya.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana silaturahmi antara para ulama dan pengurus organisasi keagamaan. Lebih dari sekadar kunjungan, pertemuan ini menjadi kesempatan untuk menyampaikan doa, harapan, serta perhatian terhadap keberlangsungan perjuangan dakwah dan peran organisasi Islam dalam kehidupan masyarakat.

Harapan agar NU Semakin Bermanfaat bagi Umat

Salah satu pokok penting dalam kunjungan tersebut adalah harapan Habib Umar bin Hafidz agar Nahdlatul Ulama terus meningkatkan peran dan kemanfaatannya, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapan itu disampaikan oleh Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir, yang menjelaskan pesan Habib Umar mengenai pentingnya keberlanjutan perjuangan dan penguatan fungsi jam’iyah.

Kiai Afif menyampaikan, “NU sekarang mudah-mudahan tambah bermanfaat, baik nasional maupun internasional. Terus berjuang meningkatkan peran dan fungsi daripada jamiyah.”

Pesan tersebut menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan khidmat Nahdlatul Ulama dalam menjawab kebutuhan umat. Dengan jangkauan yang luas dan keberadaan warga Nahdliyin di berbagai wilayah, NU memiliki ruang untuk terus berkontribusi melalui dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, serta berbagai ikhtiar yang membawa maslahat bagi masyarakat.

Harapan agar NU semakin bermanfaat juga menunjukkan bahwa perjuangan organisasi keagamaan tidak berhenti pada penguatan internal, tetapi perlu terus diwujudkan dalam kontribusi yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas. Kemanfaatan tersebut diharapkan tidak hanya hadir di tengah umat Islam di Indonesia, tetapi juga menjangkau masyarakat dunia melalui peran dakwah dan nilai-nilai keislaman yang membawa kebaikan.

Doa untuk Kepengurusan Baru PBNU 2026–2031

Kunjungan Habib Umar berlangsung setelah PBNU menyelesaikan Muktamar ke-35 dan membentuk kepengurusan untuk masa khidmah 2026–2031. Dalam momentum tersebut, jajaran PBNU turut memohon doa agar kepengurusan yang baru dapat menjalankan amanah dengan baik serta melanjutkan perjuangan organisasi dalam melayani umat.

Pergantian kepengurusan merupakan bagian dari perjalanan sebuah jam’iyah dalam meneruskan tanggung jawab dan menjaga keberlanjutan perjuangan. Amanah yang diemban para pengurus tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan organisasi, tetapi juga dengan upaya menjaga nilai-nilai keagamaan, memperkuat pelayanan kepada warga, serta merawat hubungan dengan berbagai elemen masyarakat.

Dalam konteks tersebut, doa dan harapan dari seorang ulama seperti Habib Umar bin Hafidz menjadi bagian penting dari silaturahmi yang terjalin. Dukungan moral dan doa diharapkan mengiringi langkah para pengurus dalam menjalankan tugas serta memperluas kontribusi NU di tengah masyarakat.

Katib Aam PBNU, Prof. M. Nuh, menyampaikan bahwa Habib Umar berharap dan mendoakan agar Nahdlatul Ulama terus berkembang serta semakin memberikan manfaat bagi kalangan Nahdliyin dan masyarakat dunia. Harapan ini sejalan dengan cita-cita untuk menghadirkan dakwah yang tidak hanya memperkuat kehidupan keagamaan, tetapi juga membawa kebaikan bagi kehidupan sosial secara lebih luas.

Pertukaran Kitab, Simbol Silaturahmi Keilmuan

Selain membicarakan harapan dan doa bagi perjalanan NU, kunjungan ini juga diwarnai dengan pertukaran karya dan kitab. Habib Umar bin Hafidz menerima karya dari sejumlah ulama PBNU, di antaranya KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Dimyathi, dan KH Zulfa Musthofa.

Pertukaran kitab tersebut bukan sekadar bagian dari rangkaian kunjungan, melainkan juga mencerminkan tradisi silaturahmi keilmuan yang telah lama hidup dalam dunia Islam. Karya tulis dan kitab menjadi salah satu sarana bagi para ulama untuk berbagi pemikiran, menyampaikan gagasan, serta menjaga kesinambungan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Prof. M. Nuh menjelaskan bahwa pertukaran karya tersebut menjadi simbol silaturahmi keilmuan sekaligus memperkuat sanad keilmuan. Dalam tradisi Islam, sanad memiliki kedudukan penting karena berkaitan dengan kesinambungan transmisi ilmu dan keterhubungan seorang penuntut ilmu dengan para guru serta ulama terdahulu.

Melalui momentum seperti ini, hubungan ant ulama tidak hanya terjalin dalam pertemuan secara langsung, tetapi juga melalui karya dan khazanah ilmu yang menjadi bagian dari warisan intelektual Islam. Pertukaran kitab tersebut sekaligus memperlihatkan penghargaan terhadap tradisi keilmuan dan pentingnya menjaga hubungan antara para pemilik ilmu.

Mempererat Silaturahmi, Menguatkan Perjuangan Dakwah

Prof. M. Nuh juga memandang kunjungan Habib Umar bin Hafidz sebagai bentuk silaturahmi antara tokoh dan ulama yang memiliki perhatian terhadap perjuangan umat. Pertemuan secara langsung menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan batin, saling mendoakan, serta menjaga ikatan persaudaraan di antara para ulama.

Silaturahmi memiliki peran penting dalam perjalanan dakwah. Hubungan yang terjaga dengan baik dapat menjadi ruang untuk memperkuat semangat bersama dalam membimbing umat dan meneruskan nilai-nilai keislaman. Di tengah tantangan kehidupan masyarakat yang terus berkembang, hubungan ant ulama dan lembaga keagamaan menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kesinambungan dakwah.

Kunjungan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Rihlah Dakwah Habib Umar bin Hafidz di Indonesia, yang mempertemukannya dengan berbagai kalangan dan lembaga. Dalam kunjungannya ke PBNU, perhatian terhadap kemanfaatan organisasi, doa bagi kepengurusan baru, dan pertukaran kitab menjadi tiga pokok utama yang mewarnai pertemuan tersebut.

Melalui silaturahmi ini, harapan agar NU terus berkembang dan memperluas manfaatnya kembali mengemuka. Doa bagi kepengurusan masa khidmah 2026–2031 serta penguatan hubungan keilmuan turut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan perjuangan dakwah.

Kunjungan Habib Umar bin Hafidz ke PBNU pada akhirnya menjadi momentum untuk merawat hubungan ant ulama sekaligus meneguhkan kembali pentingnya khidmat bagi umat. Harapan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut mengarah pada satu tujuan besar: agar perjuangan dakwah dan peran organisasi keagamaan terus menghadirkan manfaat yang semakin luas, bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Sumber informasi : Majelis Al-Muwasholah Baina ‘Ulama Al-Muslimin.

Comments are closed.