
JAKARTA – Majelis Al Muwasholah baina Ulama Al Muslimin sukses menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) pada 29-30 Desember 2025 M / 8-9 Rajab 1447 H. Bertempat di Gedung Majelis Al Muwasholah Pusat, Cidodol, Jakarta Selatan, perhelatan ini menjadi momentum krusial bagi rekonstruksi struktur koordinator wilayah di seluruh Indonesia, mulai dari ujung Aceh hingga Indonesia Timur.

Acara dibuka secara resmi dengan kehadiran jajaran Dewan Syuro dan perwakilan pemerintah yang diwakili oleh Wakil Walikota Jakarta Selatan Bapak Ali Murtadho dan didampingi oleh Camat kecamatan Kebayoran Lama Bapak Mustafa dan Lurah Kelurahan Sukabumi Selatan Bapak Gerbaldi.
Dalam opening ceremony Wakil Walikota secara antusias mengapresiasi acara tersebut dan berharap hasil dari Munas bisa menjadi rekomendasi Majelis untuk program keummatan yang akan diusung oleh pemerintah daerah sebagai bentuk sinergi antara ulama dan umaro.

Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dan pembukaan secara resmi oleh Ketua Dewan Syuro Habib Sholeh Al Jufri.
Dalam sambutannya, Habib Sholeh Al Jufri menekankan pentingnya sinergi antar-ulama dalam menjaga estafet dakwah.
Munas diawali dengan sesi perenungan mendalam atas untaian kata mutiara Khodimul Majelis, Sayyidil Habib Umar bin Hafidz, disusul dengan paparan laporan pusat. Secara signifikan, Majelis menunjukkan grafik pertumbuhan positif dalam tiga tahun terakhir, didukung oleh jaringan website organisasi yang kini telah terintegrasi secara lengkap.
Pada sesi berikutnya, beberapa wilayah seperti Jawa Timur (khususnya Kabupaten Jember), Kalimantan Selatan, dan Madura memberikan laporan perkembangan yang menjadi percontohan bagi wilayah lainnya. Diskusi interaktif dalam sesi tanya jawab memberikan ruang istifadah yang maksimal bagi seluruh peserta.

Aspek manajemen juga menjadi sorotan utama dengan materi kepemimpinan dan konsep bisnis yang disampaikan oleh KH Syihabuddin (Solo). Sesi ini diperkaya dengan arahan spiritual dan berbagi pengalaman langsung dari para Dewan Syuro.

Hari kedua Munas difokuskan pada rapat Komisi dengan metode brainstorming yang terbagi ke dalam empat fokus utama:
- Komunikasi antar-ulama.
- Pengembangan visi (Ilmu, Tazkiyah, dan Dakwah).
- Pencarian solusi kontemporer problematika umat.
- Pengembangan media dan publikasi produk ilmiah ulama.
Hasil rapat komisi kemudian dirumuskan dalam Rapat Pleno yang dipimpin oleh Habib Hamid Al Qodry dan Habib Ahmad Mujtaba, dengan pendampingan langsung dari Dewan Syuro untuk penyusunan resolusi akhir.

Tepat pukul 12:00 WIB, Munas resmi ditutup dengan prosesi mahalul qiyam yang khidmat. Habib Jindan bin Novel bin Jindan dalam tausiah penutupnya memberikan pesan penguatan bagi para koordinator daerah agar kembali ke wilayah masing-masing dengan semangat khidmah yang lebih besar. Antusiasme tinggi para peserta menunjukkan optimisme baru bagi masa depan Majelis Al Muwasholah di Indonesia.
